Kamis, 15 Mei 2014

dasar agronomi

I.         KEDALAMAN DAN MEDIA TANAM
A.      Pendahuluan
1.         Latar Belakang
Tanaman merupakan suatu tumbuhan yang dapat di kelola oleh  manusia yang berguna untuk mengambil hasilnya atau sering juga disebut budidaya pertanian. Dalam kegiatan budidaya tanaman, sangat rentang sekali terhadap beberapa faktor-faktor yang sangat sensitif di antaranya adalah adalah unsur hara, iklim, tanaman. Adanya media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit.
Penyebabnya pada setiap daerah memiliki kelembapan dan suhu yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara. Kedalaman sangat berpengaruh dalam faktor pertumbuhan tanaman. Kedalaman tanam tergantung juga pada tipe perkecambangan dan kandungan air serta oksigen pada media tanam.Untuk mendapatkan media tanam yang baik dan sesuai kebutuhan tanaman yang akan ditanam agar dapat tumbuh dengan baik, seseorang harus memahami karakteristik dari media tanam yang jenisnya berbeda-beda. Berdasarkan jenis bahannya, media tanam dibedakan menjadi dua yaitu bahan organik dan anorganik.
Media tanam bahan organik berasal dari organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik karena bahan organik sudah mampu menyediakan unsur.
Unsur hara bagi tanaman dan bebas dari kandungan bahan kimia.Kedalaman tanam tergantung pada tipe perkecambahan dan kandungan air serta oksigen pada media tanam. Umumnya benih dengan cotyledoneae yang muncul ke atas permukaan tanah, biasanya memerlukan penanaman dangkal daripada benih yang cotyledoneae bijinya tertinggal dibawah permukaan tanah .
2.         Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum “Kedalaman dan Media Tanam” ini adalah untuk mengetahui pengaruh kedalaman media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
B.       Tinjauan Pustaka
Pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan disebut sebagai pupuk kandang. Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Unsur-unsur tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman (Foth 2006).
Benih diartikan sebagai biji tanaman yang telah mengalami perlakuan sehingga dapat dijadikan sarana dalam memperbanyak tanaman perlakuan sehingga dapat dijadikan sarana dalam memperbanyak tanaman. Secara agronomi, benih disamakan dengan bibit karena fungsinya sama. Tetapi secara biologi berbeda. Bibit digunakan untuk menyabut benih yang telah berkecambah. Dalam perkembangbiakan secara vegetatif, bibit dapat diartikan sebagai bahan tanaman yang berfungsi sebagai alat reproduksi, misalnya umbi (Sugiyono 2005).
Pupuk dapat digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai, misalnya pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah tetapi kandungan bahan organik di dalamnya sangatlah tinggi. Sedangkan pupuk anorganik adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki kandungan persentase yang tinggi. Contoh pupuk anorganik adalah urea, TSP dan Gandasil (Sutanto 2002).
Kedalaman tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, selain itu juga menentukan jumlah unsur hara dan air yang dapat diserap tanaman. Kedalaman efektif tanah adalah suatu kedalaman yang diukur dari permukaan tanah sampai pada lapisan kedap air, yakni ; lapisan pasir, kerikil, batu lignit. Ini sangat ditentukan dari tingkat pelapukan humus yang ada dipermukaan dan jenis batuan induk yang melapuk menjadi soil. Penyebaran kedalaman sedimen tanah di Kota Balikpapan dapat dikelompokkan dalam 3 kelas yaitu :
1.   Kedalaman efektif antara 30 Cm sampai 60 Cm, seluas + 50%
      dari luas wilayah kota.
2.   Kedalaman efektif diatas 60 - 90 Cm, seluas + 40% dari luas
      wilayah kota.
3.   Kedalaman efektif diatas 90 Cm, seluas + 10% dari luas       
wilayah kota   (Anonim 2012). 
Agar kecambah mempunyai vigor dan kecepatan tumbuh yang baik dan seragam, maka media tanam yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan. Madia tanam harus bebas penyakit (steril), yang tidak cepat lapuk, mempunyai sifat kimia dan fisika yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman semai, yaitu mengandung unsur hara mikro dan makro esensial, memudahkan akar untuk menempel, media tanam harus berongga (porous) untuk sirkulasi udara (Anonim 2010).
Salah satu faktor yang memegang peranan dalam percobaan rumah kaca adalah penggunaan tanah yang lebih seragam.  Hal tersebut penting agar data yang digunakan dapat sama. Selain itu juga agar variabel media tanamnya sama (Hidajat A 2000).
Terdapat interaksi kedalaman tanam dengan posisi benih terhadap daya kecambah benih, umur berkecambah, dan persen. Kedua faktor tersebut tidak berinteraksi nyata pada komponen pertumbuhan semai maupun bibit. Kedalaman tanam benih berpengaruh nyata hanya terhadap tinggi semai sedangkan posisi benih berpengaruh nyata pada panjang akar lateral, panjang akar tunjang, bobot kering akar, dan rasio tajuk-akar (Santoso 2008).
C.      Metode Praktikum
1.         Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum dasar agronomi dengan judul Kedalam Tanam dan Media Tanam ini dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2013 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Univeristas Sebelas Maret.
2.         Alat dan Bahan
a.       Alat
1)      Pot/ polybag
2)      Meteran
3)      Kertas Label
4)      Timbangan
5)      Oven
b.      Bahan
1)      Benih jagung
2)      Kompos/ pupuk kandang
3)      Tanah
3.         Cara Kerja
a.         Menyiapkan tanah sesuai prosedur pengolahan tanah.
b.        Memasukkan tanah dengan kompos sesuai perlakuan masing-masing ke dalam polybag.
c.         Mengaduk dengan rata hingga tanah dan kompos tercampur dengan rata.
d.        Memasukkan benih ke dalam polybag yang sudah terisi tanah dan kompos.
e.         Membasahi media tanam tersebut dengan air secukupnya.
D.      Hasil Pengamatan dan Pembahasan
1.         Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Berat Brangkasan Segar




Ulangan

Rata-rata
No.
Perlakuan
1
2
3
4
1
A1 B1
5,37
9,2
4,6
6,65
6,455
2
A1 B2
42,7
20,70
26,88
40,9
32,795
3
A1 B3
12,7
28,7
31,1
52,6
31,275
4
A2 B1
10,4
2,65
9,7
16
9,6875
5
A2 B2
5,2
12,2
32,7
82,4
33,125
6
A2 B3
31,7
12,5
38,8
25,00
27
Sumber : Hasil Pengamatan
Tabel 1. 2 Berat Brangkasan Kering            
No.
Perlakuan


Ulangan

Rata-rata
1
2
3
4
1
A1 B1
0,5
0,7
0,26
0,84
0,575
2
A1 B2
4,03
2,0
2,8
4,26
2,4575
3
A1 B3
1,3
3,0
2,48
5,08
2,965
4
A2 B1
1,23
0,3
1
1,6
1,0325
5
A2 B2
0,4
0,9
3,7
9,6
3,65
6
A2 B3
3,01
1,3
3,7
2,8
2,7025
              Sumber : Hasil Pengamatan
              Tabel 1.3 Tinggi Tanaman Jagung
Minggu ke-
Tinggi Tanaman
I
29,5 cm
II
32 cm
III
55 cm
IV
59 cm
V
60 cm
VI
62 cm
              Sumber : Hasil Pengamatan
Gambar 1.1 Grafik Tinggi Tanaman Jagung      
2.         Pembahasan
Benih diartikan sebagai biji tanaman yang telah mengalami perlakuan sehingga dapat dijadikan sarana dalam memperbanyak tanaman. Perlakuan tersebut berguna untuk  dapat dijadikan sarana dalam memperbanyak tanaman. Secara agronomi, benih disamakan dengan bibit karena fungsinya sama. Tetapi secara biologi berbeda, bibit digunakan untuk menyabut benih yang telah berkecambah. Dalam perkembangbiakan secara vegetatif, bibit dapat diartikan sebagai bahan tanaman yang berfungsi sebagai alat reproduksi. pada media tanam di sini berperan penting dalam proses pertumbuhan tanaman jagung tersebut. Apabilan tidak benar pada media tanamnya maka akan mempengaruhi proses pertumbuhannya. Faktor media tanam sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pangan yaitu nutrisi bagi tanaman. Tanaman akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan tanaman yang baik juga jika media tanamnya sudah sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman maka media tanam yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan seperti ,Media tanam harus bebas penyakit (steril), yang tidak cepat lapuk, mempunyai sifat kimia dan fisika yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanamannya, yang mengandung unsur hara mikro dan makro esensial, memudahkan akar untuk menempel, media tanam harus berongga (porous) untuk sirkulasi udara. Dimana faktor ini juga yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jagung yaitu suhu, cahaya, oksigen. Untuk kedalaman tanam pada tanaman jagungnya itu sendiri begitu berpengaruh karna apabila tidak dikira-kira kedalaman tanamnya maka akan menghasilkan tanaman yg tidak sesuia. Kedalaman tanam juga tergantung pada tipe perkecambahan dan kandungan air serta oksigen pada media tanam. Umumnya benih dengan cotyledoneae yang muncul ke atas permukaan tanah, biasanya memerlukan penanaman dangkal daripada benih yang cotyledoneae bijinya tertinggal dibawah permukaan tanah.  
Pada tanaman jagung juga perlu dilakukan berat brangkasan segar untuk mengetahui berat tanaman jagung pada saat masih segar, sedangkan pada berat brangkasan kering itu tanaman jagung di masukkan kedalam koran lalu di masukkan kedalam oven tanaman jagung tersebut. Dengan begitu hasil yang diperoleh juga akan berbeda. Tetapi rata-rata yang diperoleh hasil tertinggi itu pada berat brangkasan segar daripada berat brangkasan kering. Karna berat brangkasan segar tanaman jagung diambil sampai akarnya lalu dibersihkan dengan air tanaman jagung tersebut masih dalam keadaan segar, sedangkan pada berat brangkasan kering tanaman jagung sudah dimasukkan kedalam oven maka tanaman jagung beratnya akan berkurang.
Pada hasil pengamatan dasar agronomi mengenai  Kedalaman dan Media Tanam  pada sampel bibit jagung. Pada pertumbuhan jagung dengan media tanam tanah saja dengan kedalaman 1cm pertumbuhannya cepat dengan minggu pertama pertumbuhan jagung sudah mencapai tinggi 29,5 cm. Pada minggu kedua pertumbuhan jagung masih seperti biasa dan tinggi tidak mengalami begitu cepat hanya 32 cm hanya menempuh jarak 2,5cm saja. Pertumbuhan jagung pada minggu ketiga mengalami pertumbuhan sangat cepat hingga mencapai tinggi 55cm. Dengan menyiram setiap minggunya maka pertumbuhan juga akan cepat mengalami kenaikan. Pada minggu keempat pertumbuhan jagung juga termasuk mengalami pertumbuhan yang cepat hingga mencapai tinggi 59 cm. Setelah minggu kelima pertumbuhan jagung melambat karna pertumbuhannya hanya 1cm saja sehingga pertumbuhan jagung pada minggu kelima 60cm.
Pada pengamatan yang terakhir pada minggu keenam pertumbuhan jagung juga mengalami perlambatan karna tinggi pertumbuhan hanya naik 2cm dan hingga menjadi 62cm. Jadi pertumbuhan jagung paling tertinggi pada minggu ketiga mengalami pertumbuhan cepat. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena media tanah saja sudah mengandung unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan namun pertumbuhan karena semakin lama unsur hara yang ada dalam tanah akan berkurang dan juga tidak ada pupuk kompos sebagai campurannya.  Pada Jagung A1B2 dengan media tanam tanah : kompos (4:1) dan dengan kedalaman 1cm pertumbuhannya masing-masing memiliki hasil yang berbeda-beda  Hal tersebut kemungkinan terjadi karena perbandingan kompos terlalu banyak dibanding dengan tanah sehingga air tidak dapat tertahan lama. Sedangkan pada Jagung A1B3 dengan perbandingan media tanam tanah : kompos (2:1) dengan kedalaman 1cm pertumbuhannya  meningkat tetapi lambat. Hal ini terjadi karena pupuk belum menyatu sempurna dengan tanah sehingga air tidak dapat tertahan dengan baik.
Pada berat brangkasan segar didominasi oleh berat akar pada tanaman jagung untuk perlakuan A1B1 dengan media tanam tanah untuk hasil terendah pada kelompok 13 yaitu dengan berat 4,6 gr dan untuk hasil tertinggi pada kelompok 7 yaitu dengan berat 9,2 gr. Sedangkan untuk perlakuan A1B2 pada tanaman jagung berat brangkasan segar pada kelompok 2 memiliki berat tertinggi yaitu 42,7g dan untuk berat brangkasan terendah pada kelompok 8 yaitu 20,70. Untuk  perlakuan tanaman jagung A1B3 yang tertinggi pada kelompok 21 memiliki berat brangkasan 52,6 g dan terendah pada kelompok 3 dengan berat brangkasan segar yaitu 12,7 g. Pada perlakuan A1B2 dengan media tanam perbadingan tanah : kompos (4:1) untuk berat brangkasan segar. untuk berat tertinggi pada kelompok   22 dengan berat brangkasan segar 16g dan terendah pada kelompok 10 yaitu berat 2,65. Pada perlakuan A2B2 dengan media tanam perbandingan tanah : kompos(4:1) untuk berat tertinggi pada 23 denga berat 82,4 g dan terendah pada kelompok 5 dengan berat brangkasan segar yaitu 5,2 g, sedangkan pada perlakuan A2B3 dengan media tanam perbandingan tanah: kompos (2:1) untuk berat brangkasan segar tertinggi pada kelompok 18 dengan berat 38,8 g dan terendah pada kelompok 12 yaitu dengan berat 12,5 g.
Pada berat brangkasan kering untuk perlakuan A1B1 dengan media tanam tanah untuk berat tertinggi pada kelompok 19 dengan berat 0,84 g dan terendah pada kelompok 13 dengan berat 0,26 g. Pada perlakuan A1B2 dengan media tanam perbandingan tanah : kompos(4:1) untuk berat tertinggi pada kelompok 20 dengan berat 4,62 g dan berat terendah pada kelompok 8 yaitu dengan berat 2,0 g. Pada perlakuan A1B3 dengan media tanam perbandingan tanah : kompos (2:1) berat tertinggi pada berat brangkasan kring pada kelompok  21 yaitu 5,08 g dan berat terendah pada kelompok 3 dengan berat 1,3. Pada berat brangkasan kering dengan perlakuan A2B1 untuk tertinggi pada kelompok 22 dengan berat 1,6 g dan terendah pada kelompok 10 dengan berat 0,3. Sedangkan pada perlakuan A2B2 dengan berat tertinggi pada kelompok 23 dengan berat 9,6 g dan berat terendah pada kelompok 5 yaitu 0,4 g dan pada perlakuan A2B3 berat brangkasan kering tertinggi pada kelompok 18 dengan berat 3,7 g dan terendah pada kelompok 12 dengan berat 1,3 g. 
E.       Kesimpulan dan Saran
1.         Kesimpulan
Dari praktikum Dasar Agronomi mengenai Kedalaman dan Media Tanam ini dan hasil pengamatan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a.    Media tanam merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan hasil tanaman.
b.    Hasil tanaman tergantung pada tipe perkecambahan dan kandungan air serta oksigen pada media tanam tersebut.
c.    Media tanam yang paling baik dari praktikum ini adalah tanah dan dengan kedalaman 1cm.
d.   Hasil berbeda dari setiap kelompok dengan perlakuan yang sama terjadi karena pengaruh faktor lain, misalnya intensitas penyiraman dan perawatan tanaman.
2.         Saran
Diharapkan kepada Praktikan pada saat mencampur media tanah dengan pupuk kompos dengan perbandingan yang telah ditentukan sebaiknya seluruh tanah telah bercampur sempurna dengan pupuk kompos.dan praktikan dapat merawat tanamannya agar tidak mati sebaiknya dalam penyiraman hendaknya dilakukan secara rutin setiap hari agar pertumbuhan tanaman bisa maksimal.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar