Jumat, 16 Mei 2014

dasgro 2

II. PEMUPUKAN LEWAT DAUN
A.      Pendahuluan
1.         Latar Belakang
Pupuk bermanfaat untuk menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia di tanah menjadi tersedia untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar di pasaran sangatlah beragam baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, kandungan unsur hara maupun kemasannya. Dengan beragamnya jenis pupuk dengan berbagai karakter masing-masing sering membuat pemakaiannya kebingungan untuk menggunakannya. Tidak mengherankan jika sering dijumpai kegagalan produksi tanaman sebagai akibat kesalahan pemupukan.
Hal tersebut dapat diatasi dengan cara sebelum dilakukan pemupukan ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu melakukan analisis tanah dan daun, mengidentifikasi gejala kekurangan unsur hara, dan menentukan metode pemupukan. Analisis tanah dan daun adalah untuk mengetahui ketersediaan unsur hara dalam tanah dan unsur hara apa yang dibutuhkan tanaman. Di samping itu dengan mengidentifikasi gejala kerusakan atau kelainan pada tanaman kita sudah dapat memprediksi unsur hara yang kurang yang dibutuhkan tanaman.  
Pengaplikasian pupuk harus sesuai dengan rekomendasi hasil analisis perlu metode pemupukan yang tepat, karena kesalahan cara aplikasinya, pemupukan yang kita berikan tidak bermanfaat. Kesalahan dalam aplikasi pupuk akan berakibat pada terganggunya pertumbuhan tanaman. Bahkan unsur hara yang dikandung oleh pupuk tidak dapat dimanfaatkan tanaman.
Pemupukan atau pemberian pupuk pada lahan sekitar tanaman dapat dilakukan dengan cara ditugal, disebar, diberikan di atas tanah atau disebelah tanaman. Sedangkan untuk pupuk sair dengan cara penyemprotan pada daun, disemprotkan sebagai perlakuan tambahan. Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, sehingga pupuk diberikan pada saat yang menunjukkan sejumlah kebutuhan akan pupuk itu agar diperoleh keuntungan yang tinggi.
Pupuk nitrogen dalam bentuk larut, perlu diletakkan dekat dengan biji tanaman sebagai pemacu tumbuh. Pupuk daun umunya diberikan bagi pupuk-pupuk yang mengandung unsur mikro seperti Fe, Cu, dan Mn. Namun penyemprotan pupuk nitrogen juga dilakukan pada tanaman yang tumbuh lanjut. Penyemprotan pupuk daun seyogyanya menggunakan semprotan volume rendah dalam semburan dengan kadar 5–20%, apabila dengan semprotan volume tinggi maka kadar nitrogen hendaknya antara 0,5–1,0%.
2.         Tujuan
Praktikum acara pemupukan lewat daun bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk daun terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
B.       Tinjauan Pustaka
Sayuran sawi banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena banyak mengandung vitamain dan kaya akan serat. Namun dalam budidaya sawi, keterbatasan hara di tanah menjadi masalah. Salah satu unsure hara yang sangat dibutuhkan tanaman sawi adalah nitrogen. Nitrogen pada tanaman merupakan unsure hara makro yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, tetapi ketersediaannya dalam tanah terbatas. Sebab itu untuk mengatasi kekurangan N pada tanaman, perlu dilakukan pemupukan. Namun unsur nitrogen yang tersedia untuk tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu faktor adalah gulma. Gulma dapat menurunkan produksi sawi dan mengakibatkan kualitas sawi jelek    (Temewu P dan Kabugu LP 2009).
Pupuk selain dapat diberikan melalui tanah juga dapat diberikan melalui daun tanaman. Proses penyerapan hara yang diberikan lewat daun lebih cepat jika dibandingkan  dengan pemupukan melalui tanah. Hilangnya pupuk karena tercuci, penguapan dan terfiksasi akan lebih kecil, karena pupuk dapat langsung diserap tanaman (Sutejo 1995).
Pupuk daun termasuk pupuk anorganik yang cara pemberiannya ke tanaman melalui penyemprotan ke daun. Satu hal kelebihan dari pupuk daun, yaitu penyerapan haranya berjalan lebih cepat dibanding pupuk yang diberikan lewat akar. Seperti itu diketahui bahwa daun memiliki mulut yang lazim disebut mulut daun (stomata). Stomata ini membuka dan menutup secara mekanis yang diatur oleh tekanan turgor dari sel-sel penutup   (Marsono 2008).
Jenis pupuk yang diberikan untuk tanaman sayuran daun adalah pupuk yang mengandung unsur N tinggi, seperti pupuk kandang (jenis organik), pupuk urea (pupuk tunggal), dan pupuk cair organik atau pupuk buatan lengkap. Khusus untuk pupuk urea sering diaplikasikan lewat daun. Dosis pemberian pupuk urea adalah 2g/l air. Pemberian pupuk ini tidak boleh berlebihan karena tanaman dapat hangus terbakar (Heru 2007).
Sawi (Brassica juncea) sudah lama di kenal di banyak Negara. Tanaman ini diperkirakan berasal dari daratan Asia Tengah dan menyebar ke benua Eropa melalui Yunani. Bagaimana sawi masuk ke Indonesia tidak diketahui pasti, tetapi saat ini sawi sudah merupakan sayuran yang sangat di kenal di berbagai golongan masyarakat Indonesia (Widiastuti 2005).
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila di tanam pada akhir musim penghujan  (Anonima 2010).
Tanaman sawi memiliki batang sejati pendek dan tegap terletak pada bagian dasar yang berada di dalam tanah. Batang sejati bersifat tidak keras dan berwarna kehijauan atau keputih-putihan. Daun tanaman sawi berbentuk bulat atau bulat panjang (lonjong) ada yang lebar dan sempit, ada yang berkerut-kerut (keriting), tidak berbulu, berwarna hijau tua, hijau          keputih- putihan sampai hijau tua (Anonimb 2010).
C.      Metode Praktikum
1.         Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum pada acara II mengenai pemupukan lewat daun dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 30 April 2013 pada pukul 15.30 – 17.00 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
2.         Alat dan Bahan
a.    Alat
1)      Polybag
2)      Penggaris
3)      Timbangan
4)      Oven
5)      Label
b.      Bahan
1)       Sawi
2)      Pupuk daun dalam kemasan
3)      Tanah
3.         Cara Kerja
a.    Menyiapkan media tanam pada polybag yang tersedia, lalu basahi media tanam dengan air secukupnya
b.    Menanam benih dan memeliharanya
c.    Melakukan penyemprotan pupuk daun pada umur 14, 21, 28 HST dengan konsentrasi pupuk daun 2,5 cc/l.
d.   Mengukur tinggi tanaaman seminggu sekali dan membuat laporan sementara.



D.      Hasil Pengamatan dan Pembahasan
1.      Hasil Pengamatan
Tabel 2.1 Tinggi Tanaman Sawi
Tinggi Tanaman Minggu ke-
Tinggi Tanaman (cm)
I
9
II
9
III
12
IV
15
V
15
VI
16,5
Sumber : Hasil Pengamatan
Gambar 2.1 Grafik Tinggi Tanaman Sawi










Tabel 2.2 Berat Brangkasan Segar pada Akhir Panen
No
Perlakuan
Ulangan
Rata-rata (gram)
1
2
3
4
5
6
1
Kontrol
1,4
0,4
0,3
0,4
2,3
1,4
1,03
2
14 HST
6,4
1,4
0,70
2,85
3,3
3,28
2,99
3
21 HST
0,7
0,3
-
1,0
0,51
1,3
0,64
4
28 HST
1,5
0,48
0,729
1,3
1,09
0,9
0,99
Sumber : Hasil Pengamatan
Tabel 2.3 Berat Brangkasan Kering pada Akhir Panen
No
Perlakuan
Ulangan
Rata-rata (gram)
1
2
3
4
5
6
1
Kontrol
0,0
0
0,19
0,06
0,02
0,1
0,06
2
14 HST
0,35
0,06
0,1
0,22
0,2
0,3
0,21
3
21 HST
0,1
0,1
-
0,6
0,4
0,1
0,22
4
28 HST
0,1
0,2
0,1
0,1
0,7
0,2
0,23
Sumber : Hasil Pengamatan
2.         Pembahasan
Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupum diolah. Sawi mencakup beberapa spesies Brassica yang kadang-kadang mirip satu sama lain. Di Indonesia penyebutan sawi biasanya mengacu pada sawi hijau (Brassica rapa kelompok parachinensis, yang disebut juga sawi bakso, caisim, atau caisin). Selain itu, terdapat pula sawi putih (Brassica rapa kelompok pekinensis, disebut juga petsai) yang biasa dibuat sup atau diolah menjadi asinan. Jenis lain yang kadang-kadang disebut sebagai sawi hijau adalah sawi sayur (untuk membedakannya dengan caisim).
Pupuk daun merupakan salah satu jenis pupuk anorganik majemuk. Disebut demikian karena pembuatan pupuk daun bertujuan agar unsur-unsur yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh daun atau untuk pembentukan zat hijau daun. Itulah salah satu kelebihan pupuk daun. Penyerapan unsur hara dalam pupuk daun memang dirancang berjalan lebih cepat dibanding dengan pupuk akar. Tanaman akan tumbuh cepat dan media tanam tidak rusak akibat pemupukan yang terus menerus. Oleh karena itu, pemupukan melalui daun dianggap lebih efektif dibandingkan dengan pupuk akar. Sayangnya, pupuk daun mempunyai sifat cepat menguap sehingga pelaksanaannya hanya pada pagi atau sore hari saja.
Apabila daun diberi pupuk yang mempunyai konsentrasi yang tepat dan dapat dimanfaatkan maka akan merangsang pembelahan sel, sehingga dapat meningkatkan panjang tanaman. Jumlah daun berperan penting dalam proses fotosintesis dan absorbsi makanan dari luar. Pemberian pupuk akan lebih efektif diberikan melalui daun daripada melalui media. Hal ini disebabkan daun mampu menyerap pupuk sekitar 90% sedangkan akar mampu menyerap pupuk sekitar 10 %
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa tanaman sawi yang tidak mengalami pertumbuhan dari minggu pertama ke minggu ke dua, dan dari minggu ke empat ke minggu ke 5 perlakuan mengalami penghambatan yaitu kurang optimalnya penyiraman tanaman. Sedangkan yang mengalami pertambahan tinggi tanaman yaitu pada minggu ke tiga dan ke enam yang pertambahannya hanya 1 dan 1,5 cm. Hal tersebut terjadi mungkin disebabkan karena pengaruh faktor lingkungan, faktor perawatan yang kurang optimal, faktor eksternal dan internal.
Data berat segar tanaman yang kami peroleh dari seluruh kelompok menunjukkan bahwa rata-rata berat berangkas segar tertinggi pada tanaman sawi yaitu perlakuan penyemprotan pupuk daun 14 HST. Berat segar terendah pada tanaman sawi dengan perlakuan 21 HST. Mungkin hal yang menyebabkan perlakuan 14 HST  paling tertinggi dan terbaik dalam rata-rata berat brangkas segar yaitu faktor dari lingkungan seperti suhu dan intensitas cahaya. Selain itu juga pemupukan yang konsentrasinya sesuai dengan pertumbuhan tanaman itu sendiri. Sedangkan berat brangkas segar tanaman sawi yang paling rendah terdapat pada perlakuan  21 HST. Hal ini dikarenakan perawatan tidak teratur, kurangnya penyiraman yang optimal dan kurangya unsur hara dalam tanah, sehingga tidak dapat diserap secara optimal oleh tumbuhan. Kelebihan konsentrasi yang terlalu tinggi juga menyebabkan berat brangkasan segar tanaman sawi menjadi turun.
Data berat kering tanaman yang kami peroleh dari seluruh kelompok menunjukkan bahwa rata-rata berat kering berangkas tertinggi pada tanaman sawi pada perlakuan pupuk daun pada umur 28 HST . Sedangkan berat kering terendah pada tanaman sawi dengan perlakuan pupuk daun pada umur kontrol. Hal tersebut terjadi karena faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung antara lain tersedianya unsur hara yang cukup, intessitas cahaya yang optimal, penyiraman setiap hari yang optimal, waktu penyiraman yang tepat sesuai musim, dan penyemprotan pupuk daun yang sesuai dengan konsentrasi. Sedangkan faktor penghambat seperti kedalaman benih, kurangnya intesitas cahaya, kurangnya unsur hara dalam tanah, serta faktor perawatan yang kurang optimal.
Pemupukan lewat daun sangat berpengaruh dengan hasil yang dicapai dikarenakan berfotosintesis pada saat optimal atau maksimal dan juga saat tertentu membutuhkan nutrisi lewat daun. Jika dilaksanakan pada waktu yang tepat dimana dapat pemupukan melalui daun mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah penyerapan unsur hara lebih cepat, karena melalui stomata secara langsung. Memenuhi unsur mikro dan unsur makro serta menghindari kerusakan pada tanah. Pemupukan lewat daun dilakukan dengan cara disemprotkan pada bagian bawah daun dengan volume rendah dengan kadar 5-20%.
 Dari data yang kami peroleh memperlihatkan bahwa pertumbuhan tanaman sawi setiap kelompok tidak sama dikarenakan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain. Faktor pendukung pertumbuhan yaitu tersediannya unsur hara yang cukup, intensitas cahaya optimal, pemilihan benih yang bagus dan waktu penyiraman yang tepat. Faktor penghambat yaitu kedalaman benih, kurangnya intensitas cahaya, kurangnya unsur hara dalam tanah dan kurangnya penyiraman yang optimal.
E.       Kesimpulan dan Saran
1.         Kesimpulan
Dari praktikum acara kedalaman dan media tanam ini dapat    disimpulkan bahwa:
a.         Pupuk merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan hasil tanaman
b.        Pupuk daun yang paling baik diberikan atau disemprotkan 14 Hari Setelah Tanam.
c.         Kandungan utaman dari pupuk daun adalah NPK yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
d.        Hasil berbeda dari setiap kelompok dengan perlakuan yang sama terjadi karena pengaruh faktor lain, misalnya intensitas penyiraman dan perawatan tanaman atau kesalahan dalam pengukuran tinggi tanaman.
2.         Saran
a.         Pada saat asistensi dan pengarahan dari coas sebaiknya praktikan memperhatikan dengan seksama sehingga tidak terjadi kesalahan saat praktikum, misalnya kesalahan mengukur tinggi tanaman dan sebagainya.
b.        Perawatan yang meliputi penyiraman dan penyiangan hendaknya dilakukan secara rutin agar pertumbuhan tanaman sesuai harapan.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar