II. PEMUPUKAN LEWAT DAUN
A.
Pendahuluan
1.
Latar Belakang
Pupuk
bermanfaat untuk menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia
di tanah menjadi tersedia untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Seperti yang
telah kita ketahui bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar di pasaran sangatlah
beragam baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, kandungan unsur hara maupun
kemasannya. Dengan beragamnya jenis pupuk dengan berbagai karakter
masing-masing sering membuat pemakaiannya kebingungan untuk menggunakannya.
Tidak mengherankan jika sering dijumpai kegagalan produksi tanaman sebagai akibat
kesalahan pemupukan.
Hal
tersebut dapat diatasi dengan cara sebelum dilakukan pemupukan ada beberapa hal
yang perlu dilakukan, yaitu melakukan analisis tanah dan daun, mengidentifikasi
gejala kekurangan unsur hara, dan menentukan metode pemupukan. Analisis tanah
dan daun adalah untuk mengetahui ketersediaan unsur hara dalam tanah dan unsur
hara apa yang dibutuhkan tanaman. Di samping itu dengan mengidentifikasi gejala
kerusakan atau kelainan pada tanaman kita sudah dapat memprediksi unsur hara
yang kurang yang dibutuhkan tanaman.
Pengaplikasian
pupuk harus sesuai dengan rekomendasi hasil analisis perlu metode pemupukan
yang tepat, karena kesalahan cara aplikasinya, pemupukan yang kita berikan
tidak bermanfaat. Kesalahan dalam aplikasi pupuk akan berakibat pada
terganggunya pertumbuhan tanaman. Bahkan unsur hara yang dikandung oleh pupuk
tidak dapat dimanfaatkan tanaman.
Pemupukan
atau pemberian pupuk pada lahan sekitar tanaman dapat dilakukan dengan cara
ditugal, disebar, diberikan di atas tanah atau disebelah tanaman. Sedangkan
untuk pupuk sair dengan cara penyemprotan pada daun, disemprotkan sebagai
perlakuan tambahan. Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan
hasil tanaman, sehingga pupuk diberikan pada saat yang menunjukkan sejumlah kebutuhan
akan pupuk itu agar diperoleh keuntungan yang tinggi.
Pupuk
nitrogen dalam bentuk larut, perlu diletakkan dekat dengan biji tanaman sebagai
pemacu tumbuh. Pupuk daun umunya diberikan bagi pupuk-pupuk yang mengandung unsur
mikro seperti Fe, Cu, dan Mn. Namun penyemprotan pupuk nitrogen juga dilakukan
pada tanaman yang tumbuh lanjut. Penyemprotan pupuk daun seyogyanya menggunakan
semprotan volume rendah dalam semburan dengan kadar 5–20%, apabila dengan
semprotan volume tinggi maka kadar nitrogen hendaknya antara 0,5–1,0%.
2.
Tujuan
Praktikum
acara pemupukan lewat daun bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk daun
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
B.
Tinjauan
Pustaka
Sayuran
sawi banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena banyak mengandung vitamain
dan kaya akan serat. Namun dalam budidaya sawi, keterbatasan hara di tanah
menjadi masalah. Salah satu unsure hara yang sangat dibutuhkan tanaman sawi
adalah nitrogen. Nitrogen pada tanaman merupakan unsure hara makro yang penting
bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, tetapi ketersediaannya dalam tanah
terbatas. Sebab itu untuk mengatasi kekurangan N pada tanaman, perlu dilakukan
pemupukan. Namun unsur nitrogen yang tersedia untuk tanaman dipengaruhi oleh
berbagai faktor, salah satu faktor adalah gulma. Gulma dapat menurunkan
produksi sawi dan mengakibatkan kualitas sawi jelek (Temewu P dan Kabugu LP 2009).
Pupuk
selain dapat diberikan melalui tanah juga dapat diberikan melalui daun tanaman.
Proses penyerapan hara yang diberikan lewat daun lebih cepat jika
dibandingkan dengan pemupukan melalui
tanah. Hilangnya pupuk karena tercuci, penguapan dan terfiksasi akan lebih
kecil, karena pupuk dapat langsung diserap tanaman (Sutejo 1995).
Pupuk
daun termasuk pupuk anorganik yang cara pemberiannya ke tanaman melalui
penyemprotan ke daun. Satu hal kelebihan dari pupuk daun, yaitu penyerapan
haranya berjalan lebih cepat dibanding pupuk yang diberikan lewat akar. Seperti
itu diketahui bahwa daun memiliki mulut yang lazim disebut mulut daun
(stomata). Stomata ini membuka dan menutup secara mekanis yang diatur oleh
tekanan turgor dari sel-sel penutup (Marsono 2008).
Jenis
pupuk yang diberikan untuk tanaman sayuran daun adalah pupuk yang mengandung
unsur N tinggi, seperti pupuk kandang (jenis organik), pupuk urea (pupuk
tunggal), dan pupuk cair organik atau pupuk buatan lengkap. Khusus untuk pupuk
urea sering diaplikasikan lewat daun. Dosis pemberian pupuk urea adalah 2g/l
air. Pemberian pupuk ini tidak boleh berlebihan karena tanaman dapat hangus
terbakar (Heru 2007).
Sawi (Brassica juncea) sudah lama di kenal di banyak
Negara. Tanaman ini diperkirakan berasal dari daratan Asia Tengah dan menyebar
ke benua Eropa melalui Yunani. Bagaimana sawi masuk ke Indonesia tidak
diketahui pasti, tetapi saat ini sawi sudah merupakan sayuran yang sangat di
kenal di berbagai golongan masyarakat Indonesia (Widiastuti 2005).
Tanaman
sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada
musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur.
Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih
cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang
menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila di tanam pada akhir musim penghujan
(Anonima 2010).
Tanaman sawi
memiliki batang sejati pendek dan tegap terletak pada bagian dasar yang berada
di dalam tanah. Batang sejati bersifat tidak keras dan berwarna kehijauan atau keputih-putihan.
Daun tanaman sawi berbentuk bulat atau bulat panjang (lonjong) ada yang lebar
dan sempit, ada yang berkerut-kerut (keriting), tidak berbulu, berwarna hijau
tua, hijau keputih- putihan
sampai hijau tua (Anonimb 2010).
C. Metode Praktikum
1.
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum
pada acara II
mengenai
pemupukan lewat daun dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 30 April 2013 pada
pukul 15.30 – 17.00 di Rumah Kaca
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
2.
Alat dan Bahan
a.
Alat
1)
Polybag
2)
Penggaris
3)
Timbangan
4)
Oven
5)
Label
b.
Bahan
1)
Sawi
2)
Pupuk daun dalam kemasan
3)
Tanah
3.
Cara Kerja
a.
Menyiapkan media tanam pada polybag
yang tersedia, lalu basahi media tanam dengan air secukupnya
b.
Menanam benih dan memeliharanya
c.
Melakukan penyemprotan pupuk daun
pada umur 14, 21, 28 HST dengan konsentrasi pupuk daun 2,5 cc/l.
d.
Mengukur tinggi tanaaman seminggu
sekali dan membuat laporan sementara.
D.
Hasil
Pengamatan dan Pembahasan
1. Hasil
Pengamatan
Tabel 2.1 Tinggi Tanaman Sawi
|
Tinggi Tanaman
Minggu ke-
|
Tinggi Tanaman
(cm)
|
|
I
|
9
|
|
II
|
9
|
|
III
|
12
|
|
IV
|
15
|
|
V
|
15
|
|
VI
|
16,5
|
Sumber : Hasil
Pengamatan
Gambar 2.1 Grafik
Tinggi Tanaman Sawi

Tabel 2.2 Berat
Brangkasan Segar pada Akhir Panen
|
No
|
Perlakuan
|
Ulangan
|
Rata-rata
(gram)
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
|||
|
1
|
Kontrol
|
1,4
|
0,4
|
0,3
|
0,4
|
2,3
|
1,4
|
1,03
|
|
2
|
14 HST
|
6,4
|
1,4
|
0,70
|
2,85
|
3,3
|
3,28
|
2,99
|
|
3
|
21 HST
|
0,7
|
0,3
|
-
|
1,0
|
0,51
|
1,3
|
0,64
|
|
4
|
28 HST
|
1,5
|
0,48
|
0,729
|
1,3
|
1,09
|
0,9
|
0,99
|
Sumber
: Hasil Pengamatan
Tabel 2.3 Berat
Brangkasan Kering pada Akhir Panen
|
No
|
Perlakuan
|
Ulangan
|
Rata-rata
(gram)
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
|||
|
1
|
Kontrol
|
0,0
|
0
|
0,19
|
0,06
|
0,02
|
0,1
|
0,06
|
|
2
|
14 HST
|
0,35
|
0,06
|
0,1
|
0,22
|
0,2
|
0,3
|
0,21
|
|
3
|
21 HST
|
0,1
|
0,1
|
-
|
0,6
|
0,4
|
0,1
|
0,22
|
|
4
|
28 HST
|
0,1
|
0,2
|
0,1
|
0,1
|
0,7
|
0,2
|
0,23
|
Sumber
: Hasil Pengamatan
2.
Pembahasan
Sawi
adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica
yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik
segar maupum diolah. Sawi mencakup beberapa spesies Brassica yang kadang-kadang mirip satu sama lain. Di Indonesia
penyebutan sawi biasanya mengacu pada sawi hijau (Brassica rapa kelompok parachinensis,
yang disebut juga sawi bakso, caisim, atau caisin). Selain itu, terdapat
pula sawi putih (Brassica rapa kelompok
pekinensis, disebut juga petsai) yang
biasa dibuat sup atau diolah menjadi asinan. Jenis lain yang kadang-kadang
disebut sebagai sawi hijau adalah sawi sayur (untuk membedakannya dengan
caisim).
Pupuk daun merupakan salah satu
jenis pupuk anorganik majemuk. Disebut demikian karena pembuatan pupuk daun
bertujuan agar unsur-unsur yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh daun
atau untuk pembentukan zat hijau daun. Itulah salah satu kelebihan pupuk daun.
Penyerapan unsur hara dalam pupuk daun memang dirancang berjalan lebih cepat
dibanding dengan pupuk akar. Tanaman akan tumbuh cepat dan media tanam tidak
rusak akibat pemupukan yang terus menerus. Oleh karena itu, pemupukan melalui
daun dianggap lebih efektif dibandingkan dengan pupuk akar. Sayangnya, pupuk daun
mempunyai sifat cepat menguap sehingga pelaksanaannya hanya pada pagi atau sore
hari saja.
Apabila daun diberi pupuk yang
mempunyai konsentrasi yang tepat dan dapat dimanfaatkan maka akan merangsang
pembelahan sel, sehingga dapat meningkatkan panjang tanaman. Jumlah daun
berperan penting dalam proses fotosintesis dan absorbsi makanan dari luar.
Pemberian pupuk akan lebih efektif diberikan melalui daun daripada melalui
media. Hal ini disebabkan daun mampu menyerap pupuk sekitar 90% sedangkan akar
mampu menyerap pupuk sekitar 10 %
Dari
data di atas dapat disimpulkan bahwa tanaman sawi yang tidak mengalami
pertumbuhan dari minggu pertama ke minggu ke dua, dan dari minggu ke empat ke
minggu ke 5 perlakuan mengalami penghambatan yaitu kurang optimalnya penyiraman
tanaman. Sedangkan yang mengalami pertambahan tinggi tanaman yaitu pada minggu
ke tiga dan ke enam yang pertambahannya hanya 1 dan 1,5 cm. Hal tersebut
terjadi mungkin disebabkan karena pengaruh faktor lingkungan, faktor perawatan
yang kurang optimal, faktor eksternal dan internal.
Data
berat segar tanaman yang kami peroleh dari seluruh kelompok menunjukkan bahwa
rata-rata berat berangkas segar tertinggi pada tanaman sawi yaitu perlakuan
penyemprotan pupuk daun 14 HST. Berat segar terendah pada tanaman sawi dengan
perlakuan 21 HST. Mungkin hal yang menyebabkan perlakuan 14 HST paling tertinggi dan terbaik dalam rata-rata
berat brangkas segar yaitu faktor dari lingkungan seperti suhu dan intensitas
cahaya. Selain itu juga pemupukan yang konsentrasinya sesuai dengan pertumbuhan
tanaman itu sendiri. Sedangkan berat brangkas segar tanaman sawi yang paling rendah
terdapat pada perlakuan 21 HST. Hal ini
dikarenakan perawatan tidak teratur, kurangnya penyiraman yang optimal dan
kurangya unsur hara dalam tanah, sehingga tidak dapat diserap secara optimal
oleh tumbuhan. Kelebihan konsentrasi yang terlalu tinggi juga menyebabkan berat
brangkasan segar tanaman sawi menjadi turun.
Data
berat kering tanaman yang kami peroleh dari seluruh kelompok menunjukkan bahwa
rata-rata berat kering berangkas tertinggi pada tanaman sawi pada perlakuan
pupuk daun pada umur 28 HST . Sedangkan berat kering terendah pada tanaman sawi
dengan perlakuan pupuk daun pada umur kontrol. Hal tersebut terjadi karena
faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung antara lain
tersedianya unsur hara yang cukup, intessitas cahaya yang optimal, penyiraman
setiap hari yang optimal, waktu penyiraman yang tepat sesuai musim, dan
penyemprotan pupuk daun yang sesuai dengan konsentrasi. Sedangkan faktor
penghambat seperti kedalaman benih, kurangnya intesitas cahaya, kurangnya unsur
hara dalam tanah, serta faktor perawatan yang kurang optimal.
Pemupukan
lewat daun sangat berpengaruh dengan hasil yang dicapai dikarenakan
berfotosintesis pada saat optimal atau maksimal dan juga saat tertentu
membutuhkan nutrisi lewat daun. Jika dilaksanakan pada waktu yang tepat dimana
dapat pemupukan melalui daun mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah penyerapan
unsur hara lebih cepat, karena melalui stomata secara langsung. Memenuhi unsur
mikro dan unsur makro serta menghindari kerusakan pada tanah. Pemupukan lewat
daun dilakukan dengan cara disemprotkan pada bagian bawah daun dengan volume
rendah dengan kadar 5-20%.
Dari data yang
kami peroleh memperlihatkan bahwa pertumbuhan tanaman sawi setiap kelompok tidak sama dikarenakan
faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain. Faktor pendukung
pertumbuhan yaitu tersediannya unsur hara yang cukup, intensitas cahaya
optimal, pemilihan benih yang bagus dan waktu penyiraman yang tepat. Faktor
penghambat yaitu kedalaman benih, kurangnya intensitas cahaya, kurangnya unsur
hara dalam tanah dan kurangnya penyiraman yang optimal.
E. Kesimpulan dan
Saran
1.
Kesimpulan
Dari
praktikum acara kedalaman dan media tanam ini dapat disimpulkan bahwa:
a.
Pupuk merupakan
salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan hasil tanaman
b.
Pupuk daun yang paling baik diberikan atau disemprotkan
14 Hari Setelah Tanam.
c.
Kandungan utaman dari pupuk daun adalah NPK yang sangat
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
d.
Hasil berbeda dari setiap kelompok dengan perlakuan yang
sama terjadi karena pengaruh faktor lain, misalnya intensitas penyiraman dan
perawatan tanaman atau kesalahan dalam pengukuran tinggi tanaman.
2.
Saran
a.
Pada saat
asistensi dan pengarahan dari coas sebaiknya praktikan memperhatikan dengan
seksama sehingga tidak terjadi kesalahan saat praktikum, misalnya kesalahan
mengukur tinggi tanaman dan sebagainya.
b.
Perawatan yang
meliputi penyiraman dan penyiangan hendaknya dilakukan secara rutin agar
pertumbuhan tanaman sesuai harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar